Rencana Untuk Pulang (atau Tidak)

Tengah malam nge-laundry dengan maksud agar tidak bertemu sesama manusia. Apalah daya, ini entah kenapa manusia sekoridor pada ngumpul semua. #haha

Eh, ini bukan soal laundry sih. Tapi tentang pikiran-pikiran jorok selama nge-laundry.

Bermula dari jempol binalku yang masih jugaaaaa demen menyusuri newsfeed Instagram dan Twitter. Kalau Twitter, aman lah ya…cuma untuk metani akun-akun receh buat hiburan. Tapi kalau Instagram…yawlah…stalking pake akun KBRI pulak. #paraaaah

Sialnya, jempol saya terjebak dalam imaji keluarga ideal impian saya dalam sejumlah postingan mbak Iie, Gothenburg. Kan dia juga nemenin Chiki Fawzi selama syuting di kota terbesar kedua di Swedia itu. Nahhh, mulailah saya jalan-jalan membaca kisahnya.

Her life…seems really perfect. Dia kan merantau sama dua anak dan suaminya, mas Feri Nugroho menempuh PhD di Chalmers. Dia sendiri sebenarnya juga lagi S2. Relationship goals banget ya, berkeluarga sambil menuntut ilmu di negeri rantau.

Mbak Iie juga menyebut, dia lebih bangga dan happy menemani sang suami yang berprestasi gitu. Bener-bener idola. Saya bisa merasakan, gimana mendukung orang sukses (terutama suami), dibandingkan ngambis sendiri. Soalnya, saya pun bukan tipikal orang yang pengen maju kelihatan di depan. Pengennya jadi the best supporting system aja.

Namun, kekaguman dan khayalanku hempassss ke bumi, cyin. Wkakaka. Yah…saya kan jadi ngaca ya, karena belum bersuami…

Sambil menjemur satu per satu baju di mesin pengering inilah, hamba merenungi nasib.

Lanjutkan membaca “Rencana Untuk Pulang (atau Tidak)”

Iklan

Belajar Mendengarkan (Usai Semangat Berbagi)

Pertama-tama, aku ingin memuji diriku sendiri.
Hejjjj, selamat! Blog ini mulai rutin diisi!
(sebelum penyakit malesnya kumat, yah, diapresiasi dulu yak. Wkwkwk)

Kedua, tulisan ini tak akan panjang karena masih banyak kerjaan mengantri yang merupakan hasil dari kemalasanku sendiri. Hhhh…

Okej…

Kemarin Senin, 8 April 2019, bertempat di kantor kedutaan besar Republik Indonesia di Stockholm…

Sik…sik…ini kok kayak orang KBRI nulis caption dan laporan sih? Bwahahaha.
Ulang…ulang…


WhatsApp Image 2019-04-01 at 09.09.24

Mataku berbinar-binar melihat poster workshop jurnalistik yang bakal disampaikan kru NET. TV sebulan sebelum mereka datang ke Swedia. Copywriting-nya menggoda banget. Kurang lebih begini, “mau jadi citizen journalist sekaligus nambah uang saku?”🤑🤑🤑

Buatku, Citizen Journalist alias CJ NET. TV bukan barang baru. Diluncurkan tahun 2013, program (yang kemudian berkembang menjadi platform berikut aplikasi di ponsel cerdas via Playstore) ini juga booming di kalangan wartawan/jurnalis. Terutama yang di luar Jakarta (yeah you all will call us ‘daerah’).

Lanjutkan membaca “Belajar Mendengarkan (Usai Semangat Berbagi)”

Tuhan, Aku Cuma Ingin Minta Maaf dan Tolong…

Ini memang ide tolol; ngomong sama Allah tapi lewat blog. Haha.
Tapi jujur saja, aku sedang berada pada level ‘craving for writing something in this blog’.
Seorang kawan menyarankan journaling dengan nulis-nulis di diary. Apalagi notebook cute yang dihadiahkan Citra masih kosong melompong. Tapi (lagi), aku lagi pengen nulis di blog. Titik.

So…
I would like to talk to my God…

It’s been almost a year I don’t know what to say when I pray. There are so many things inside my head, but I realize who the hell am I pointing out things to be asked. Aku malu dan kucil, menyadari bahwa selama ini banyak hal yang belum Ia kabulkan yang membikin aku merasa… “aku ini siapa, mengatur-atur Tuhan?”

Pada akhirnya, aku cuma bisa bilang…
“Allah, please help me. And please forgive me for asking this and that.”
“I’m sorry for wanting him so bad. Please help me…”
…dan seterusnya.
Tentu pake adegan nangis bombay berkepanjangan…

This phase is getting harder day by day. Meski sebenarnya, masa-masa inilah yang penting untuk kudapatkan karena…beginilah seharusnya hidup. Ia membuat kita bertumbuh. Aku memang mencari kesulitan-kesulitan ini karena…hidup lalu mati membosankan di Surabaya pasti lebih mengerikan.

Mungkin, aku hanya belum siap menghadapi ketakutan-ketakutanku sendiri tentang masa depan sekaligus harapan. Bilamanakah datangnya pertolongan Allah? Itu yang selalu aku rapalkan dengan suara perih dalam hati. It feels like I couldn’t bear it anymore.

Secara mengejutkan, Ia menunjukkan selapis demi selapis diriku yang sejujurnya.
Aku yang sangat meledak-ledak dengan ide, namun bisa seketika pengecut ketika ideku tak diterima. Penolakan menempaku dan meluruhkanku dalam satu waktu.
Aku yang bisa sangat hangat, namun bisa menutup diri demi mencari perhatian.
Ingin bisa berteman dan diakui semua orang, namun juga membenci satu per satu yang menurutnya tak sefrekuensi.

Ternyata, aku tak setegar dan sehebat itu.

Dalam sunyi kamar yang tak lagi berdua dengan roommate…aku hanya mampu berucap…
“Allah…please forgive me. Please help me…”

Doa-Doa yang Menguap Menanti Jawab

“Kenapa lagi tuh mata?” celetuk Artika dengan nada suara yang datar. Lirikan matanya hanya sedetik menatap Mita, lalu berjalan perlahan sembari memasukkan kedua telapak tangannya di saku jaket. Stockholm menipu banyak orang yang mengira hari ini sudah masuk musim semi. Hujan salju menampar-nampar muka, menyulap jalanan kembali diselimuti warna serba putih.

Mita menelan ludah dan ingus yang menggantung di hidung. “Kurang tidur,” jawabnya singkat.

“Kurang tidur karena nangis berapa lama tuh?”

Mita menghentikan langkah pendek-pendeknya lantaran susah payah menerjang tumpukan salju yang menumpuk tanpa ampun. “Bisa nggak sih, kita bicara hal-hal normal aja?”

“Contohnya?” potong Artika dengan cepat. Ia menaikkan sebelah alisnya, menahan ujung senyuman. Meledek.

It’s Sweden. Just ask me a straight question, for example…

That is straight enough, I think. Gue nanyain mata loe.”

Mita mendelik. Artika memasang muka-pura-pura-bego. “Iya, kurang tidur karena nangis lama. Puas?!?”

Artika lalu tergelak karena Mita terlalu mudah menyerah untuk ditebak. “Apa lagi yang loe tangisi dari doi? I thought you’ve understood enough all the risks…”

Stop humiliating me, Tik…” Lanjutkan membaca “Doa-Doa yang Menguap Menanti Jawab”

I Dunno

I dunno what is happening,
A butterfly and storm at the same time…in my stomach.
I dunno whom to talk to…

I dunno what is happening,
A waterfall of tears falling down almost every day.
I dunno whom to share with, too…

I dunno why me wanting you,
Is it you or the idea of you.

I dunno how do you see me, though.
Are we reading the same page, eh?

Yang Tidak Mereka Katakan Padamu Tentang Merantau

Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).

Merantaulah…
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang)

Setiap hari, syair karangan Imam Syafi’i ini bergentayangan di kepalaku sejak masa kuliah. Dari lahir sampai bangku SMA di Surabaya, hidup serasa adem ayem damai sentausa baik-baik saja dan puas dengan pencapaian-pencapaian kecil. Jika dibandingkan dengan tetangga-tetangga dan saudara-saudara sepupu, sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya tuh udah top lah. Sekolah paling favorit lan top sak Kutho Pahlawan. Padahal pas tes masuk skorku nomer 2 dari yang paling bawah, bwakakakak. Adegannya udah nangis pas menelusuri namaku dari daftar atas kok nggak nemu-nemu juga. #tepokjidat

Semua berubah ketika menginjak dunia perkuliahan dan mulai bertemu dengan kawan-kawan luar kota. Bak tertampar, saya baru nyadar kalau selama ini hidup seperti katak dalam tempurung; tahunya cuman Surabaya thok. Itulah kenapa meskipun seneng desain grafis, nggak pernah kepikiran kuliah di ITB yang juga punya jurusan DKV. Bahkan buat kuliah di ISI Yogya pun ku tak kepikiran. The one and only crossed my mind was only Surbeje tertjuintah. Dih, sungguh menyedihkan!

Lalu, kutemukanlah syair Imam Syafii itu.
Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang)

Akibatnya, saya sekonyong-konyong merasa jadi manusia paling gagal dan hina. Mau sekolah negeri dan paling top sekalipun, prestasi sebanyak apapun, saya langsung yakin kalau saya ini nggak pantes merasa keren karena hidup ngglibet di Surabaya thok.

Belum lagi kalau kedengeran lagunya Coldplay yang Paradise. Makin rontok, remuk, berceceran tak berdayalah hatiku ini. Liriknya guwe bangettttt! Lanjutkan membaca “Yang Tidak Mereka Katakan Padamu Tentang Merantau”

Bukan Resolusi, Tapi Belajar Ikhlas

Masih hawa tahun baru. Hampir semua topik pemberitaan dan perbincangan di dunia maya membahas soal resolusi. Rakyat dunia maya alias ghaib juga kembali riuh mengucap resolusi.

Sebagai manusia yang selalu mencoba anti-mainstream, saya nggak pernah tertarik menyusun resolusi. Buat saya, manusia itu pada dasarnya suka perubahan. Kaitannya dengan resolusi, artinya perubahan yang baik kan? Makanya…kalau ingin berubah itu mustinya setiap hari. Pencapaian itu setiap hari. Nggak nunggu tahun baru.

Hmm, tapi saya tak bermaksud menganggap remeh mereka yang rajin dan berpendapat resolusi itu sebagai sesuatu yang penting nan baik. Justru ada satu pelajaran menarik yang saya dapat di antara kerumuman hingar-bingar resolusi yang menguar.

Hikmah itu datang dari seorang kawan nelayan di Kampung Bulujowo, Bancar, Kabupaten Tuban. Namanya mas Darsono alias Jojon. Saya biasa manggil dia Mas Cin (sebelum dia nikah, hahaha). Dia bikin status di WhatsApp yang benar-benar menyentuh relung hati dan akal saya. Lanjutkan membaca “Bukan Resolusi, Tapi Belajar Ikhlas”

2019; Cleaning Out My Closet

Wes 2019, rekkkk!
Kudu ono postingan anyar, haha. Yeah.

Halo ceman-ceman dan handai taulan sekalian, gimana tahun baruannya? Seperti biasa, saya tyda merayakannya. Jangan julid yak, karena sejak di Indonesia pun kalau malam tahun baruan saya biasanya juga di rumah. Sambil meringkuk menutup telinga dari suara jedar-jeder petasan tetangga, saya berdoa biar hujan turun dengan deras biar anak-anak alay bubaran. *doa jomblo emang jahat*

Selain itu, buat apa keluar rumah? Satu, gak ada yang menarik diliput. Dua, gak ada yang bakal dimuat kalau liputan. T bisa nyomot berita dari kantor berita, tanpa peduli korespondennya uyel-uyelan dan ngabisin bensin buat berangkat. Tiga, males.

Terakhir kali saya ikut turun di jalan buat berburu malam tahun baru tuh, pas masih kuliah. Udah lama deh pokoknya. Saya masih ingat, dulu masih anget-angetnya belajar fotografi jurnalistik. Jadi, niatnya bukan merayakan sebenernya. Tapi karena kebutuhan cari obyek aja.

Waktu itu saya bikin photostory tentang perbedaan perayaan Tahun Baru Masehi dan Islam, yang tahun itu deketan tanggalnya. Proyek cerita foto itu dimentorin langsung ama Zhuang Wubin, fotografer dokumenter asal Singapura pas ada pelatihan 3 hari di CCCL (sekarang namanya IFI).

Tapi bukan berarti malam pergantian tahun baru 2018 ke 2019 kemarin saya ngenes ga kemana-mana. Setelah liburan sepekan di Norwegia sejak tanggal 23 Desember, saya sempetin ikut kumpul-kumpul PPI Stockholm di Kista. Jadi, nyampe Stasiun Central jam 09.45 CET, mendarat di kosan jam 10.30, beres-beres barang bawaan, makan-makan, trus cuss ke Kista. Lanjutkan membaca “2019; Cleaning Out My Closet”

Dalam Diam, Dalam Kelam

Allah…
Aku masih ingat pesan yang Kau titipkan kepada Syekh Yahya Ibrahim, yang menyampaikan ceramah saat kajian Love Notes itu…

“Jangan berdoa menyebut nama seseorang secara spesifik misalnya si Fulan berhuruf depan A. Karena bisa jadi, Dia mengirimkan orang lain dengan kriteria sama persis dengan A namun wujudnya B. Tapi karena kau terlanjur jatuh hati pada A, hatimu jadi tertutup dan hanya melihat A. Padahal, Allah kirimin B yang lebih sesuai dengan kebutuhanmu…”

Allah…
Maafkan aku yang masih tertatih-tatih untuk pasrah sujud di hadapan-Mu.
Masih bersusah payah merendahkan ego selandai mungkin atas apapun keputusan-Mu.
Masih berat menyingkirkan setitik keraguan dan kecemasan sampai yakin akan pertolongan-Mu.

Namun di balik semua kekurangan itu, aku juga berbisik sekencang mungkin agar akal memenangkan pertarungan melawan rengekan perasaan. Agar perasaan terbebas dari prasangka dan kelemahan iman. Perasaan tidak untuk diredam dan dihunjam, tapi dididik sebagaimana mestinya.

Bantu aku, ya…
Allah…Tuhanku Yang Maha Keren…

Menolak Pekok Gara-Gara Ahok

*Disclaimer: ini tulisan yang lama ngendon di draft. Sayang jugak kalau ga dilanjutin. So, here it goes…

Perkenalkan, Kartono (bukan nama sebenarnya). Wartawan Harian Kompas (harian-nya penting dihighlight, karena diferensiasi kasta di Grup Kompas itu maha penting. Sepenting membedakan antara status wartawan dan koresponden Tempo, bwahaha). Umurnya sepertinya 27 tahun, alumnus UGM, pacarnya dokter.

Tapi, bukan dia inti dari postingan ini.

Malam itu, saya random banget ngontak dia. Dia belakangan sibuk; sibuk liburan di kampung halamannya bersama sang pacar, lalu liputan kami jarang beririsan. Saya pun merasa kehilangan temen rumpik di lapangan dan agak dicuekin. Aku asal ae, nge-WA de’e. Kok ya kebetulan dia memang mau keluar cari makan malam.

Setelah muter-muter nyari tempat makan dari kantor Kompas di jalan Gubeng sampai daerah jalan Tidar, kami mendarat di Ayam Goreng Presiden. Sepanjang mbadhog, Kartono bercerita tentang betapa kesalnya dia dibikin repot oleh sebuah pemberitaan. Ceritanya, katanya Ahok nebus ijazah anak SMA di Lamongan setelah siswa itu mengirimkan surat kepadanya. Lanjutkan membaca “Menolak Pekok Gara-Gara Ahok”