Yang Tidak Mereka Katakan Padamu Tentang Merantau

Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang).

Merantaulah…
Kau akan dapatkan pengganti dari orang-orang yang engkau tinggalkan (kerabat dan kawan).
Berlelah-lelahlah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang.

Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan..
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, akan keruh menggenang.

Singa jika tak tinggalkan sarang, tak akan dapat mangsa..
Anak panah jika tak tinggalkan busur, tak akam kena sasaran.

Jika matahari di orbitnya tak bergerak dan terus berdiam..
tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang.

Bijih emas tak ada bedanya dengan tanah biasa di tempatnya (sebelum ditambang).
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan.

Jika gaharu itu keluar dari hutan, ia menjadi parfum yang tinggi nilainya.
Jika bijih memisahkan diri (dari tanah), barulah ia dihargai sebagai emas murni.

Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang)

Setiap hari, syair karangan Imam Syafi’i ini bergentayangan di kepalaku sejak masa kuliah. Dari lahir sampai bangku SMA di Surabaya, hidup serasa adem ayem damai sentausa baik-baik saja dan puas dengan pencapaian-pencapaian kecil. Jika dibandingkan dengan tetangga-tetangga dan saudara-saudara sepupu, sekolah di SMA Negeri 5 Surabaya tuh udah top lah. Sekolah paling favorit lan top sak Kutho Pahlawan. Padahal pas tes masuk skorku nomer 2 dari yang paling bawah, bwakakakak. Adegannya udah nangis pas menelusuri namaku dari daftar atas kok nggak nemu-nemu juga. #tepokjidat

Semua berubah ketika menginjak dunia perkuliahan dan mulai bertemu dengan kawan-kawan luar kota. Bak tertampar, saya baru nyadar kalau selama ini hidup seperti katak dalam tempurung; tahunya cuman Surabaya thok. Itulah kenapa meskipun seneng desain grafis, nggak pernah kepikiran kuliah di ITB yang juga punya jurusan DKV. Bahkan buat kuliah di ISI Yogya pun ku tak kepikiran. The one and only crossed my mind was only Surbeje tertjuintah. Dih, sungguh menyedihkan!

Lalu, kutemukanlah syair Imam Syafii itu.
Merantaulah…
Orang berilmu dan beradab tidak diam beristirahat di kampung halaman.
Tinggalkan negerimu dan hidup asing  (di negeri orang)

Akibatnya, saya sekonyong-konyong merasa jadi manusia paling gagal dan hina. Mau sekolah negeri dan paling top sekalipun, prestasi sebanyak apapun, saya langsung yakin kalau saya ini nggak pantes merasa keren karena hidup ngglibet di Surabaya thok.

Belum lagi kalau kedengeran lagunya Coldplay yang Paradise. Makin rontok, remuk, berceceran tak berdayalah hatiku ini. Liriknya guwe bangettttt! Continue reading “Yang Tidak Mereka Katakan Padamu Tentang Merantau”

Iklan

Bukan Resolusi, Tapi Belajar Ikhlas

Masih hawa tahun baru. Hampir semua topik pemberitaan dan perbincangan di dunia maya membahas soal resolusi. Rakyat dunia maya alias ghaib juga kembali riuh mengucap resolusi.

Sebagai manusia yang selalu mencoba anti-mainstream, saya nggak pernah tertarik menyusun resolusi. Buat saya, manusia itu pada dasarnya suka perubahan. Kaitannya dengan resolusi, artinya perubahan yang baik kan? Makanya…kalau ingin berubah itu mustinya setiap hari. Pencapaian itu setiap hari. Nggak nunggu tahun baru.

Hmm, tapi saya tak bermaksud menganggap remeh mereka yang rajin dan berpendapat resolusi itu sebagai sesuatu yang penting nan baik. Justru ada satu pelajaran menarik yang saya dapat di antara kerumuman hingar-bingar resolusi yang menguar.

Hikmah itu datang dari seorang kawan nelayan di Kampung Bulujowo, Bancar, Kabupaten Tuban. Namanya mas Darsono alias Jojon. Saya biasa manggil dia Mas Cin (sebelum dia nikah, hahaha). Dia bikin status di WhatsApp yang benar-benar menyentuh relung hati dan akal saya. Continue reading “Bukan Resolusi, Tapi Belajar Ikhlas”

2019; Cleaning Out My Closet

Wes 2019, rekkkk!
Kudu ono postingan anyar, haha. Yeah.

Halo ceman-ceman dan handai taulan sekalian, gimana tahun baruannya? Seperti biasa, saya tyda merayakannya. Jangan julid yak, karena sejak di Indonesia pun kalau malam tahun baruan saya biasanya juga di rumah. Sambil meringkuk menutup telinga dari suara jedar-jeder petasan tetangga, saya berdoa biar hujan turun dengan deras biar anak-anak alay bubaran. *doa jomblo emang jahat*

Selain itu, buat apa keluar rumah? Satu, gak ada yang menarik diliput. Dua, gak ada yang bakal dimuat kalau liputan. T bisa nyomot berita dari kantor berita, tanpa peduli korespondennya uyel-uyelan dan ngabisin bensin buat berangkat. Tiga, males.

Terakhir kali saya ikut turun di jalan buat berburu malam tahun baru tuh, pas masih kuliah. Udah lama deh pokoknya. Saya masih ingat, dulu masih anget-angetnya belajar fotografi jurnalistik. Jadi, niatnya bukan merayakan sebenernya. Tapi karena kebutuhan cari obyek aja.

Waktu itu saya bikin photostory tentang perbedaan perayaan Tahun Baru Masehi dan Islam, yang tahun itu deketan tanggalnya. Proyek cerita foto itu dimentorin langsung ama Zhuang Wubin, fotografer dokumenter asal Singapura pas ada pelatihan 3 hari di CCCL (sekarang namanya IFI).

Tapi bukan berarti malam pergantian tahun baru 2018 ke 2019 kemarin saya ngenes ga kemana-mana. Setelah liburan sepekan di Norwegia sejak tanggal 23 Desember, saya sempetin ikut kumpul-kumpul PPI Stockholm di Kista. Jadi, nyampe Stasiun Central jam 09.45 CET, mendarat di kosan jam 10.30, beres-beres barang bawaan, makan-makan, trus cuss ke Kista. Continue reading “2019; Cleaning Out My Closet”

Dalam Diam, Dalam Kelam

Allah…
Aku masih ingat pesan yang Kau titipkan kepada Syekh Yahya Ibrahim, yang menyampaikan ceramah saat kajian Love Notes itu…

“Jangan berdoa menyebut nama seseorang secara spesifik misalnya si Fulan berhuruf depan A. Karena bisa jadi, Dia mengirimkan orang lain dengan kriteria sama persis dengan A namun wujudnya B. Tapi karena kau terlanjur jatuh hati pada A, hatimu jadi tertutup dan hanya melihat A. Padahal, Allah kirimin B yang lebih sesuai dengan kebutuhanmu…”

Allah…
Maafkan aku yang masih tertatih-tatih untuk pasrah sujud di hadapan-Mu.
Masih bersusah payah merendahkan ego selandai mungkin atas apapun keputusan-Mu.
Masih berat menyingkirkan setitik keraguan dan kecemasan sampai yakin akan pertolongan-Mu.

Namun di balik semua kekurangan itu, aku juga berbisik sekencang mungkin agar akal memenangkan pertarungan melawan rengekan perasaan. Agar perasaan terbebas dari prasangka dan kelemahan iman. Perasaan tidak untuk diredam dan dihunjam, tapi dididik sebagaimana mestinya.

Bantu aku, ya…
Allah…Tuhanku Yang Maha Keren…

Menolak Pekok Gara-Gara Ahok

*Disclaimer: ini tulisan yang lama ngendon di draft. Sayang jugak kalau ga dilanjutin. So, here it goes…

Perkenalkan, Kartono (bukan nama sebenarnya). Wartawan Harian Kompas (harian-nya penting dihighlight, karena diferensiasi kasta di Grup Kompas itu maha penting. Sepenting membedakan antara status wartawan dan koresponden Tempo, bwahaha). Umurnya sepertinya 27 tahun, alumnus UGM, pacarnya dokter.

Tapi, bukan dia inti dari postingan ini.

Malam itu, saya random banget ngontak dia. Dia belakangan sibuk; sibuk liburan di kampung halamannya bersama sang pacar, lalu liputan kami jarang beririsan. Saya pun merasa kehilangan temen rumpik di lapangan dan agak dicuekin. Aku asal ae, nge-WA de’e. Kok ya kebetulan dia memang mau keluar cari makan malam.

Setelah muter-muter nyari tempat makan dari kantor Kompas di jalan Gubeng sampai daerah jalan Tidar, kami mendarat di Ayam Goreng Presiden. Sepanjang mbadhog, Kartono bercerita tentang betapa kesalnya dia dibikin repot oleh sebuah pemberitaan. Ceritanya, katanya Ahok nebus ijazah anak SMA di Lamongan setelah siswa itu mengirimkan surat kepadanya. Continue reading “Menolak Pekok Gara-Gara Ahok”

Kenangan dalam Sekotak Google Drive Sialan

Selain Facebook dengan fitur “Timeline” yang memungkinkan kita loncat ke tahun-tahun sebelumnya, sampai Memories yang ngingetin kita kejadian-kejadian tertentu di hari-hari tertentu…

Saya barusan menemukan aib sendiri di Google Drive.
Iyes, Google Drive.

Semula, Google Drive ini cuma berfaedah untuk mengunggah data-data video berukuran besar yang biasa saya pakai mengunggah video berita ke Tempo. Tapi karena bikin cepat penuh, setiap ngirim biasanya langsung saya hapus. Nanti ganti lagi video lain.

Video berita terakhir yang masih nangkring di penyimpanan di antaranya adddalaaaah….
…tentang perawat yang diduga mencabuli pasien National Hospital dan jenglot di Pantai Kenjeran. Dua video yang sakses viral, gaessss namun tidak berdampak signifikan terhadap pendapatan saya. Oke, next.

Di luar data-data itu, ternyata saya juga nyimpen data lain ke situ. Dan yang mencengangkan, ada banyaaaak banget data-data penting-nggak penting nan ajaib yang kulempar. Namun ini yang bikin saya mendadak baper…

Biodata buat ta’aruf.
#tutupmukak #kentut

CV_khusus_Art-1
Ini kenapa yha gambarnya pantai Papuma, Jember? Apakah dengan cover begini ikhwan-ikhwan bakwan itu bakalan kecanthol, menurut ngana??? #ketawangakak

Saya gak akan upload isinya yaaa…hahahaha. Jaim donggg, kan siapa tahu kelean yang baca ini salah satu calon suami potensial. #kibaskankerudung #pancetae

Continue reading “Kenangan dalam Sekotak Google Drive Sialan”

Cinta Yang Menunggu [2012]

PERINGATAN
Ini adalah tulisan lama saya. Jadi jangan hakimi saya berdasarkan kisah di masa lampau ya!

Dalam berbagai teori,  saya menemukan beberapa persamaan penyebutan perumpamaan antara laki-laki dan perempuan. Kalau diibaratkan sebagai burung, laki-laki itu  adalah pemburu, sedangkan perempuan adalah penjaga sarangnya. Laki-laki keluar berburu mencari pasangan hidup, mencari nafkah, berkompetisi di luar sana dengan burung-burung lainnya, sedangkan perempuan menunggu disamperin, menjaga sarang dari gangguan burung lain, merawat sarang beserta anak-anaknya. Sesederhana itu pembagian perannya.

Maka ya, sesederhana itu fitrah perempuan ketika ia belum terikat pernikahan. Menunggu.

Cinta seorang perempuan itu menunggu.
Menunggu untuk diharapkan, didatangi, diperjuangkan, atau bahkan mungkin; diselamatkan.Diharapkan ialah bentuk usaha yang paling rendah.
Didatangi ialah bentuk usaha yang selanjutnya.
Diperjuangkan menjadi bukti kesungguhan.
Kalau diselamatkan? Ya, memang diselamatkan.
Diselamatkan dari kesendirian dan pengharapannya untuk diharapkan. 

Cuman, di zaman modern di mana Justin Bieber bisa ditembak beberapa kali oleh para fans (hingga diuncali mawar sampai celana dalam), perempuan menunggu itu sudah gak umum lagi. Menunggu itu membosankan dan terkesan konyol. Jodoh itu emang di tangan Tuhan, tapi kalo kagak diambil ya tetep di tangan Tuhan terus, seloroh seorang kawan. Bener juga sih.

Lebih frontal lagi waktu kawan pesisir saya yang hobi barunya sekarang ngompor-ngompori soal pernikahan, mengirimi saya sebuah pesan singkat. “Kenapa harus jaim, melalui teman dekatnya, Nafisah, Khadijah saja berani menyatakan cintanya (gebet) duluan ke Rasul. #profokatif #propaganda #eksploitir” (5 April 2012 | 17:07:35). Saya cuma bisa mesem. Selalu dalil ini yang digembar-gemborkan kalau sudah menyangkut cinta dan urusan tunggu-menunggu.

Pertanyaannya adalah; apakah sesederhana itu?

Continue reading “Cinta Yang Menunggu [2012]”

I’m Proud of You, Mit…

“Heh Mit…guayamu yo saiki jarang omong-omongan ambe aku!” aku menepuk pundak beransel Mita dari belakang dengan keras. Ia berbalik cepat. Pundak itu kali ini tak lagi menggendong carrier superberat yang sobek-sobek seperti yang biasa ia pakai di Surabaya. Tas ransel biasa berwarna biru tua, warna kesukaannya.

Mita nyengir, lalu mengerling sekejap. Aku menatapnya lekat-lekat, mencoba menelisik apa yang mungkin bisa kutangkap dari sorot matanya. Kegelisahan kah? Ketakutan kah? Kecemasan kah? Tapi…tak ada apa-apa.

“Duhhhh, sepuraneeee Tik. Aku…sok sibuk,” katanya lalu merangkulku di sebelah kanan. “Yok opo dunia persilatan?”

“Biasa lah. Sibuk opo rek??? Nggolek jodoh ta???” pancingku nakal.

Mita memicingkan mata sebentar, lalu membesarkan pupilnya dengan cepat. “Iyo lah, sesuai misi awal. Haha!” jawabnya sembari mendorong sedikit tubuhku.

Ia menghela nafas, memiringkan kepalanya sedikit ke kiri, menaikkan sebelah alis. “Jujur ae wes. Awakmu arepe ngomong opo hayo?” nada bicaranya mendadak rendah. Tapi, ia tetap melempar sebaris senyum kepadaku.

Continue reading “I’m Proud of You, Mit…”

If You Forget Me…

I want you to know 
one thing. 

You know how this is: 
if I look 
at the crystal moon, at the red branch 
of the slow autumn at my window, 
if I touch 
near the fire 
the impalpable ash 
or the wrinkled body of the log, 
everything carries me to you, 
as if everything that exists, 
aromas, light, metals, 
were little boats 
that sail 
toward those isles of yours that wait for me. 

Well, now, 
if little by little you stop loving me 
I shall stop loving you little by little. 

If suddenly 
you forget me 
do not look for me, 
for I shall already have forgotten you. .
.
/// Pablo Neruda ///

*

Aku suka banget puisi ini 🙂